My Home

Tampilkan postingan dengan label Jalan - Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan - Jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Wisata Matahari

Well, sekarang ini akhirnya ketemu juga teman – teman yang bisa membuat salah satu hobbyku ini dapat di manjakan, yaitu jalan – jalan.
Dulu benar – benar tidak akan menyangka akan dekat dengan teman – temanku tersebut, entah kenapa aku jadi dekat dengan mereka, dan bisa menyalurkan hobby jalan – jalanku ini.

Setelah melakukan perjalanan ke daerah gunung salak beberapa bulan yang lalu, dan ke daerah Jakarta Utara di akhir 2011 yang lalu, kali ini kami berencana untuk melakukan perjalanan ke daerah puncak bogor.
Dengan semagat ’45 aku bangun pagi hari itu, aku tak mau telat lagi kali ini, setelah di 2 perjalanan yang lalu aku datang cukup telat. Aku berangkat dari rumah sekitar jam 06.00 pagi (hmm,tidak pas 06.00 juga sih,tapi ya untuk mempermudah saja,hehe), sepeda motor aku arahkan ke daerah kelapa gading terlebih dahulu dengan niat menitipkan motor di kosan salah satu temanku, setelah sampai, sarapan dan menitipkan motor, aku bersama kedua temanku berangkat menuju terminal pulo gadung. Sekeluarnya kami dari kosan, kami berjalan sedikit menuju perempatan yang biasa dilewati angkot, dengan harapan kami bisa sampai disana dengan cepat. Oke,setelah menunggu sekitar hampir 20 menit, tak ada 1 angkot pun yang datang menghampiri, kami sudah bingung mau berbuat apa lagi, karena di tempat tersebut cukup sulit menemukan kendaraan umum. Seakan bagaikan malaikat yang turun dari surga, datanglah bajaj menuju ke arah kami, dan dengan sedikit pertimbangan kami pun naik bajaj tersebut. Dengan hati tenang kami melewati jalanan menuju terminal pulo gadung, tapi ternyata ada sedikit perbedaan pendapat antara kami dengan sang supir bajaj, ternyata sang supir tidak mau mengikuti jalur kami dengan alasan jalur yang akan ia tempuh menuju tanah abang(katanya sih itu daerah rute bajajnya yang seharusnya) tidak boleh dilewati oleh bajaj, terjadilah perdebatan sengit yang akhirnya kami menangkan dan si supir hanya pasrah dan mengiyakan jalur yang kami minta. Ya dengan ongkos yang sedikit kami tambahkan sebagai tanda prihatin kami pada sang supir yang harus memutar jalur yang cukup jauh untuk menuju tanah abang, kami harap “tragedi bajaj” ini tidak akan terjadi lagi.
Dengan kondisi ketelatan kami karena “tragedi bajaj” tadi akhirnya kami harus buru – buru ke terminal pulo gadung dengan sedikit berjalan kaki, agar tidak ketinggalan bus jurusan Pulo Gadung – Sukabumi.
Setelah bertemu dengan beberapa anggota jalan – jalan lainnya, kami pun langsung menuju bus yang menuju sukabumi, dan Wala, kami langsung mendapatkan bus yang kami cari. Perjalanan cukup lancar dengan bus tersebut, walaupun ada sedikit perseteruan dengan pengamen, selanjutnya lancar – lancar saja, sampai ketika bus telah masuk tol ciawi dan tercium bau gosong nan aneh dari bus tersebut, yang akhirnya bus pun berhenti dan mogok. Penumpang pun kecewa, tapi dengan sigap sang kenek langsung menghandle masalah dan “bbbrrrrrmmmm bbbrrrrmmmm bbbrrrmmm” mesin menyala lagi dan berlanjutlah perjalanan kami. Kami turun di pasar ciawi yang bertempat di dekat pintu keluar tol ciawi, di sana kami meneruskan angkot menuju tempat tujuan pertama kami “Cimory Resto”.


Sesampainya di “Cimory Resto” kami pun masuk dan mulai memesan tempat untuk menyantap menu sarapan kami pagi itu. Sekedar info mengenai Cimory Resto, ini adalah sebuah tempat yang sebenarnya untuk menjual susu khas Cimory dan makanan – makanan turunan susu lainnya, seperti yoghurt, bakpao dll. Tapi sekarang sepertinya di modernisasi dengan ditambahkan resto untuk tempat istirahat dan menyantap makanan – makanan yang ada di tempat ini.

Sebagai hidangan pembuka, kami memilih bakpao, dengan harga Rp. 5000 kami sudah mendapatkan sebuah bakpao yang baru di kukus dan masih hangat dengan rasa yang bervariasi mulai dari kacang hijau, talas, kacang merah, hingga white lotus(kami kurang beruntung karena kami kehabisan bakpao white lotus, padahal kami cukup penasaran dengan rasanya). Bersama susu khas Cimory, kami menikmati makanan pembuka kami pagi itu, setelah itu datang tortuila(ya entahlah namanya seperti apa, tapi sejenis kebab dengan isi daging ham sapi dan berbagai bahan tambahan seperti yang terdapat di kebab) pesanan kami. 2 teman kami lainnya memesan Menu sosis yang menjadi andalan dan menjadi menu yang termasuk recomanded chef. Harga tortuila sekitar Rp. 15.000 sedangkan menu Sosis berkisar antara Rp.32.000 s.d Rp. 50.000. Untuk menu sosis, harga yang ditawarkan cukup sebanding dengan rasanya yang benar – benar menggoyang lidah, sosis yang dibuat dari daging sapi atau ayam pilihan, ,benar – benar memanjakan para pecinta sosis, dan dengan panjang sekitar 30 cm, perut cukup terpenuhi untuk memulai perjalanan kami. Setelah selesai dan menikmati indahnya pemandangan puncak di pagi hari, kami mulai hunting oleh – oleh khas Cimory. Sosis yang di hidangkan tadi juga di jual dalam bentuk mentah dengan harga berkisar antara Rp. 30.000 s.d Rp. 45.000, sedangkan susu khas Cimory seharga Rp. 15.000 untuk ukuran besar, dan Rp. 13.000 untuk ukuran kecil, sedangkan harga yoghurt Cimory seharga Rp. 5.500.

Setelah puas di Cimory, kami mengarahkan langkah kami menuju Taman Matahari yang terletak di dekat situ.
Taman Matahari merupakan salah satu objek wisata permainan yang ada di puncak, berbagai permainan ada di sana, mulai dari permainan air seperti Water Bike, Paddle Boat, Perahu Dayung, dan masih banyak lagi, selain itu ada juga arum jeram yang akan meningkatkan adrenalin, dan ada juga motor ATV yang siap untuk dikendarai. Dengan Rp. 15.000/orang kami sudah mendapatkan tiket terusan di taman Matahari.

Kebingungan mencari tempat permainan untuk kami datangi, kami akhirnya memilih “Terapi Ikan” untuk kami kunjungi pertama kali. Terapi ikan bukan termasuk arena free yang ada di tiket terusan kami, jadi kami harus membayar Rp. 5.000 untuk menikmati terapi ikan tersebut. Kesan pertama ketika memasukkan kaki ke dalam kolam adalah “kok ikannya gede yah??” ya jika di lihat, ikan yang ada ukurannya lebih besar daripada ikan yang terdapat di tempat terapi ikan di mall – mall.


Rasanya pun terasa sekali ketika digigit oleh ikan tersebut, rasanya seperti kesemutan saat digigit. Seteah cukup lama kami menikmati terapi ikan kami pun menuju ke tempat bermain selanjutnya, “Perahu Dayung”.


Antrean panjang tidak menyurutkan hati kami untuk mencoba permainan yang satu ini, dan ketika giliran kami datang kami langsung mengisi kapal karet yang sudah disediakan, dan dengan PDnya kami menolak ketika ditawarkan pemandu untuk kami, dan setelah mulai mendayung, kesan pertama adalah “kok muter – muter terus yah kapalnya, kapan majunya nie??” aku yang pernah melihat orang – orang yang mendayung menganggap bahwa mendayung itu hanya “oh cuma gitu doang”, tapi ketika prakteknya, pikiran “oh cuma gitu doang” berubah menjadi “gokil, kapan majunya nih kapal”
Dengan perlahan tapi pasti kami akhirnya maju dan mengikuti rute yang ada, dengan PDnya kami melewati rute sebanyak 2 kali(seharusnya sih 1 kali aja sebenarnya), karena sudah merasa jadi kelompok yang paling lama, kami akhirnya kembali ke tempat pemberhentian terakhir kami, dan turun dengan kondisi alas kaki basah kuyup.
Puas dengan dayung mendayung, beberapa dari kami ingin mencoba “Paddle Boat”, sejenis sepeda besar dengan kapasitas 2 penumpang yang di genjot berdua. Kali ini aku tidak mencobanya, karena yang pasti akan sangat melelahkan untuk menggoes Paddle boat tersebut, dan alasanku terbukti, kesan untuk mereka adalah “kok goesnya susah yah??” begitulah perkiraan kesan mereka, ketika mereka mencoba sepeda ukuran jumbo dengan dua roda belakang sebagai penggerak, dan satu roda depan untuk mengatur arah.


Dengan mengeluarkan segenap kekuatan yang tersisa, akhirnya mereka selesai juga, bertepatan dengan selesainya ke-4 temanku itu, hujan mulai turun, dan kami mulai mencari tempat berteduh. Sambil menikmati menu makan siang kami, kami berteduh di sebuah tempat makan yang memiliki semacam gazebo yang melindungi kami dari hujan.
Setelah hujan reda, dan makanan kami selesai di santap, kami mulai mengantri lagi di sebuah wahana air bernama “Water Bike”, ya seperti naik bebek – bebekan yang ada di ancol, dengan di goes seperti sepeda, sang kapal akan berjalan sesuai dengan arah kami inginkan.


Permainan yang tidak menuntut tenaga besar ini sebenarnya mengasyikkan jika lama, namun apa daya kami rute yang di berikan ternyata begitu pendek dan, akhirnya selesai. “kurang puas” mngkn itulah pendapat kami, tapi mau bagaimana lagi, rutenya hanya segitu dan tidak buat lama juga. Jadi akhirnya kami beristirahat sejenak sambil menunggu 2 teman kami yang ternyata begitu lama main Water Bike, aku jadi bingung dan timbul pertanyaan “lewat rute mana yah mereka, kok lama nyampenya??”
Setelah ke-2 temanku itu selesai, akhirnya kami tahu alasan mereka lama, ternyata mereka melalui rute yang tidak lazim untuk di lalui, dan sebenarnya bukan rutenya, pantas saja mereka cukup lama.
Well, hari sudah mulai sore dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan kami menuju pintu depan Taman Matahari, ternyata hujan kembali turun, dan kami terpaksa harus berteduh sebentar. Dengan bermodalkan payung yang ada, kami menuju pintu gerbang Taman Matahari, tapi karena hujan terlalu deras, kami terpaksa berteduh lagi. Hangatnya jagung rebus benar – benar menggoda kami untuk membelinya di suasana yang cukup dingin. Ketika jagung kami habis, hujan pun reda, dan kami meneruskan perjalanan kami, perjalanan menanjak yang memerlukan tenaga ekstra membuat kami sedikit kelelahan, dan akhirnya, sampai juga kami di depan pintu gerbang Taman Matahari, dari sana kami meneruskan perjalanan pulang kami dengan angkot, dan berhenti sejenak untuk membeli oleh – oleh khas puncak “Ubi Madu Cilembu”, ubi yang jadi favorit oleh – oleh tempat ini memang di gandrungi para wisatawan, dengan pilihan harga yang beragam, ubi pun disediakan yang sudah di oven dan yang masih mentah, jadi kita bisa memilih sesuka kita.

Setelah membeli oleh – oleh, kami pun naik angkot lagi untuk menuju  pasar ciawi, tempat kami akan naik bus. Hujan lagi – lagi mengguyur, dan kota hujan memang pantas diberikan kepada bogor, karena seringnya hujan di kota ini. Di tengah hujan kami berusaha untuk mencari bus menuju Pulo Gadung, namun di luar perkiraan kami, bus tersebut ternyata sudah berangkat, akhirnya kami memilih bus menuju Kampung Rambutan.
Sesampainya kami di terminal kampung rambutan, salah satu anggota kami sudah dijemput dan dari situ kami berpisah. Melanjutkan perjalanan pulang kami, kami memilih bus menuju Pulo Gadung.
Sesampai di Pulo Gadung, kami memutuskan untuk naik taksi menuju kosan temanku tempat aku menitipkan motor, di tambah dengan 2 orang lagi, setidaknya mala mini tidak akan terlalu sepi kondisinya,hehe.
Setelah istirahat sejenak, kami memutuskan untuk makan malam di sekitar kosan temanku, setelah itu kami bersiap – siap menuju rumah masing – masing.

“Tidak peduli kemana kita pergi, yang terpenting adalah dengan siapa kita melakukan perjalanan”
baca selengkapnya>>>

Jumat, 23 Desember 2011

Wisata Bahari

Setelah melakukan perjalanan di daerah selatan Jakarta alias Bogor, hari minggu yang lalu aku bersama teman – teman kantor (anggotanya sih sama dengan yang jalan – jalan ke bogor, hanya ada 1 orang yang akhirnya tidak bisa ikut. Walaupun begitu, ada rekan – rekan lain yang ikut di perjalanan kali ini ^^, dan yang pasti perjalanan kali ini lebih ramai) melakukan perjalanan mengitari daerah sekitar pesisir Jakarta Utara.

Ok, kali ini aku akui sedikit telat lagi (padahal udah bangun pagi, sempet cuci motor dan melakukan kegiatan pagi lainnya) tapi mungkin kegiatan paginya terlalu banyak, jadinya telat dah,ckckckck.

Datang ke tempat berkumpul disambut dengan wajah masam teman - teman yang sudah bosan menunggu dan akhirnya akupun lupa memperkenalkan teman kampusku kepada teman – teman kantorku (ckckckck,yang satu ini bener – bener lupa dah), dan akhirnya kamipun langsung berangkat menuju tempat tujuan pertama kami.

Ok, sekarang dijelaskan dulu ya rute perjalanan kami kali ini.
Tempat kumpul (Kelapa Gading) à Pelabuhan Sunda Kelapa à Galangan VOC à Museum Bahari à Kompleks Kota Tua à Muara Angke.

Dan perjalanan pun dimulai….
Sebenarnya sih aku gak PD juga jadi penunjuk jalan untuk yang lainnya, tapi mau bagaimana lagi, yang tahu jalan dan pernah ke tempat tujuan pertama ini baru aku saja (ya kalo ada yang udah pernah sih gak tahu juga, tapi yang pasti kalo orang itu pernah ke tempat ini, orangnya pasti males dah nunjukin jalannya, haha ^^).
Well dengan PD kami pun berangkat ke Pelabuhan Sunda Kelapa.
Sesampainya di sana, ternyata yang kami dapatkan adalah…
Jrrrreeeeennnnngggg…
Di luar perkiraanku, aku pikir di pagi hari acara bongkar muat dari kapal belum dilakukan (waktu pertama kali aku datang, kondisi sudah malam dan gak banget dah buat dikunjungi apalagi untuk foto – foto,ckckck), tapi ternyata orang pelabuhan memang rajin, pagi – pagi udah bongkar muat dan kondisinya pun cukup ramai, dan akhirnya kami memilih tempat yang sedikit sepi dan tidak ada kegiatan bongkar muat.
Kami pun berusaha mengurangi sedikit kekecewaan dengan berfoto – foto ria (ya dengan sedikit meyakinkan beberapa orang untuk ikut berfoto – foto juga sih, hehehe ^^).


Kami pun tidak menghabiskan waktu yang lama di sana dan melanjutkan perjalanan kami menuju Galangan VOC.
Ok, pertama kali aku mendengar kata Galangan VOC adalah sebuah tempat yang menyimpan segala perlengkapan kapal – kapal di masa VOC dulu, ya istilahnya mirip museum lah ya (mengingat kata “GALANGAN” adalah sebuah tempat untuk membuat kapal atau perbaikan kapal), tapi setelah mengunjungi tempat tersebut, tenyata hanya namanya saja “Galangan VOC”, mungkin tempat tersebut dulunya sebuah Galangan, namun akhirnya saat ini di ubah fungsi dan kondisinya menjadi sebuah Café dan Resto dengan nama “Galangan VOC Cafe”.
Well, gagal berfoto – foto di area dalam café Galangan VOC kamipun hanya bisa berfoto di area depan Café tersebut (ya cukup baguslah untuk sekedar berfoto – foto).

Sedikit kecewa karena tidak bisa berkeliling lebih lama di Galangan VOC, kami pun mengarahkan kendaraan kami menuju ke Museum Bahari yang sebenarnya hanya terletak di seberang jalan dari Galangan VOC.

Dengan semangat kamipun segera menuju Museum Bahari.
Setelah memarkir kendaraan kami, kami pun segera menuju pintu masuk Museum Bahari.
Kondisi bangunan kuno yang bisa dibilang seperti benteng ini membuat kami tertarik untuk berfoto – foto sejenak di sekitar pintu masuk. Saking asyiknya kamipun sempat di tegur untuk membeli tiket terlebih dahulu untuk masuk ke area Museum Bahari. Kesenangan yang sempat terhenti untuk membeli tiketpun kami lanjutkan ketika masuk ke dalam area museum, bisa di katakan harga tiket masuk cukup terjangkau, dengan merogoh kantong sebesar Rp 2.000, kami sudah dapat berkeliling mengitari Museum Bahari.

Ya namanya juga “Museum Bahari” isi dari museum ini adalah miniatur dari kapal – kapal jaman dulu, maket peta daerah sekitar Museum Bahari ketika VOC alias Belanda masih meduduki daerah Jakarta yang dulu disebut Batavia. Beberapa kapal dengan ukuran asli pun terdapat di museum tersebut, hanya saja sepertinya perawatan untuk kapal – kapal dengan ukuran asli, miniatur, dan beberapa peninggalan lain yang berhubungan dengan kapal, mercusuar dan lainnya kurang terawat, sehingga terdapat banyak debu, kondisinya sudah sedikit rusak dan kondisi bangunan pun sedikit kurang baik, mungkin karena udara yang lembab dan kurangnya perawatan dari petugas museum.






Berfoto – foto di dalam ruangan pun agaknya kurang maksimal karena pencahayaan dari ruangan yang kurang bagus, sehingga foto yang dihasilkan pun kurang memuaskan(ya ada sih beberapa ruangan yang cukup bagus pencahayaannya sehingga foto – foto kami cukup bagus dan layak dipajang, hehe ^^)

Setelah lelah berkeliling museum, kami pun istirahat sejenak untuk menikmati snack yang sudah disiapkan. Setelah istirahat kami pun mengarahkan langkah kami ke toko souvenir yang berlokasi di depan Museum Bahari. Setelah beberapa dari kami mendapatkan souvenir yang mereka inginkan, kamipun mengarahkan langkah kami menuju kendaraan kami dan menuju ke kompleks Kota Tua (Sebenarnya sebelum ke kompleks Kota Tua, kami berencana ke Menara Syahbandar yang terletak hanya beberapa meter dari Museum Bahari, tapi setelah melihat tempat tersebut, kami akhirnya tidak jadi dan langsung menuju kompleks Kota Tua.

Sesampainya di kompleks Kota Tua, kami melangkahkan kaki kami menuju Museum Fatahillah.Dengan biaya Rp 2.000 untuk umum dan Rp 1.000 untuk pelajar / mahasiswa kami sudah dapat mengitari dan menikmati Museum Fatahillah. Well, bisa dibilang ini adalah Museum kompleks Kota Tua yang paling ramai dikunjungi, entah mengapa tapi sepertinya karena beberapa museum lain terlihat biasa saja dibandingkan dengan Museum Fatahillah.


Dengan perabotan yang masih dalam proses pemugaran alias perbaikan, Museum tersebut masih terlihat menarik untuk dijadikan objek berfoto ria. Jika diperhatikan perbedaan yang sangat mencolok antara Museum Bahari dan Museum Fatahillah adalah perawatan setiap peralatan dan objek koleksi yang dipajang di kedua museum tersebut.
Jika di Museum Fatahillah setiap objek koleksinya terawat cukup baik (walaupun ada yang sedikit rusak) sedangkan di Museum Bahari, bangunan serta objek koleksi yang dipamerkan terlihat kurang terawat. Mungkin karena jumlah pengunjung di Museum Bahari jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Museum Fatahillah, sehingga pendapatan retribusi untuk perawatan bangunan dan objek koleksi pun benar – benar kurang.

Ok cukup dengan curhatnya dan kembali ke jalan – jalan…
Setelah dari Museum Fatahillah kami pun sedikit galau dengan tempat tujuan kami berikutnya, mau ke Muara Angke sepertinya masih kesiangan, tapi untuk menunggu waktu menuju ke sana mau kemana lagi??
Akhirnya kami pun memutuskan untuk berangkat menuju Muara Angke (walaupun saat itu kami anggap masih terlalu siang untuk ke sana). Satu hal yang sedikit mengecewakan adalah teman kampusku akhrinya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan tidak ikut ke tempat tujuan terakhir kami, yaitu Muara Angke.
Well, akibat tidak tidur semalaman akhirnya temanku menyerah juga karena cukup kelelahan, dan akhirnya memutuskan untuk pulang dan istirahat. Ya walaupun begitu kami cukup senang karena temanku tersebut bisa bergabung untuk menikmati jalan – jalan seru bersama kami.

Well, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Muara Angke.
Aku sebagai penunjuk jalan benar – benar blank jalur ke arah Muara Angke sebenarnya, perjalanan menuju Muara Angke benar – benar memanfaatkan penunjuk arah dan GPS yang ada. Ya walaupun agak nyasar – nyasar dan sedikit galau dengan jalan yang ditempuh, akhirnya kamipun sampai juga ke Muara Angke, tepatnya pasar Muara Angke.

Saatnya berburu bahan makanan (Yiipppeeee) ^^
Ok sekarang saatnya untuk mencari bahan makanan mentah yang nantinya akan kami minta olah d rumah makan yang ada di dekat pasar Muara Angke.
Buruan pertama kami adalah Ikan Baronang, beberapa orang memang merekomendasikan untuk membeli Ikan tersebut. Setelah menemukan pedagang yang menjual ikan tersebut, terjadilah proses tawar menawar yang sengit untuk mendapatkan harga yang pas untuk kami. Dan akhirnya kami pun mendapatkan 2 ekor Ikan Baronang dengan berat 1 kg seharga Rp. 35.000. Perburuan pun berlanjut ke Cumi, cukup kecewa ketika kami tidak mendapatkan Cumi yang kami inginkan, namun memang sudah rejeki kami, kami menemukan ibu – ibu yang menjual cumi, ya walaupun berukuran kecil, tapi karena banyak dan kalau di hitung beratnya kami bisa mendapatkan lebih dari 1 kg cumi dengan harga hanya Rp. 20.000
Kerang Hijau pun menjadi sasaran perburuan kami selanjutnya, dengan harga Rp 14.000 kami sudah mendapatkan 2 kg Kerang Hijau.
Setelah berencana untuk mengakhiri perburuan kami, ternyata ada 1 lagi jenis hewan laut yang bentuknya sedikit aneh tapi katanya sih enak. Bentuknya mirip dengan Lobster tapi ukurannya lebih kecil dibandingkan Lobster namun ukurannya lebih besar dibandingkan dengan udang. And then kami akhirnya tahu bahwa hewan tersebut dinamakan Udang Cengkrek (ya katanya sih namanya itu), harganya bisa dibilang murah, kami mendapatkan sekitar 6-7 ekor dengan harga Rp. 10.000 saja.

Ok, kami rasa sudah cukup dan saatnya mencari tempat untuk mengolah bahan makanan mentah yang telah kami beli.
Well, beberapa orang di Muara Angke merekomendasikan Rumah Makan Baruna 12 sebagai tempat makan yang pantas untuk dikunjungi karena masakan mereka yang terkenal enak. Dan akhirnya kamipun menuju tempat makan tersebut.

Tempat yang cukup nyaman, mereka menyediakan tempat untuk lesehan dan juga di meja makan, sehingga memberikan opsi kepada pengunjung untuk memilih tempat. Dan kami salah satu yang memilih opsi lesehan.
Kami mulai menanyakan biaya ongkos untuk memasak dan biaya tambahan yang harus ditambahkan nantinya. Well, ongkos memasak sekitar Rp 20.000 per kg dengan pilihan masak asam manis, saus padang, dan saus tiram, sedangkan ongkos rebus Rp 10.000 per kg, dan untuk ongkos baker, tidak dikenakan ongkos sama sekali alias free atau bahasa prancisnya Gratis, xixixixi ^^
Untuk nasi di charge Rp. 10.000 per orang yang berisi nasi, sambal, lalapan dan segelas air putih.

Akhirnya kami memutuskan untuk memilih opsi bakar untuk ikan baronang dan udang cengkrek, sedangkan untuk cumi kami memilih opsi dimasak saus padang, dan untuk kerang hijau direbus. Setelah di cek barang belanjaan kami oleh pelayan, akhirnya sang pelayan pun berkata, “Mba dan Mas, ini udang cengkrek, kalo dibakar pasti gosong semua, dan gak dapet banyak daging, lebih baik di masak aja, lagipula kalo dimasakpun dagingnya gak banyak, gimana ni mba dan masnya, mau tetep di bakar atau dimasak??”
Galaupun melanda, memilih antara opsi bakar atau dimasak, dan akhirnya kami pun memilih opsi dimasak.
Dan untuk minuman sekaligus pencuci mulut kami memesan kelapa muda yang 1 paket dengan es batu dan sirup seharga Rp. 10.000.

Kekecewaanpun melanda kami akibat pernyataan dari sang pelayan tadi mengenai udang cengkrek yang kami beli. Karena beberapa dari kamipun membeli udang tersebut untuk dibawa pulang.

Makanan Kami Datang….
Wah makanannya terlihat enak, aku yang sebenarnya tidak begitu suka dengan seafood, cukup tergoda untuk mencoba beberapa menu yang sudah dipesan.
Ikan Baronang bakar dan Cumi saus padang benar – benar menggoda untuk dicicipi.
Datang lagi Kerang Hijau rebus dan Udang Cengkrek asam manis menghiasi tempat makan kami (jujur untuk makanan kloter kedua yang datang ini, aku kurang begitu tertarik, mungkin karena kurang suka dengan dua jenis makanan tersebut dan males juga membuka dan mengupas kulitnya, hehe ^^).




Setelah beberapa dari kami mencoba udang cengkreknya ternyata dagingnya cukup enak dan banyak, tapi tetap saja kenikmatan yang mereka tunjukkan belum dapat menggodaku untuk mencicipi makanan tersebut.


Well done, perut kami pun kepenuhan, walaupun belum dapat menghabiskan seporsi kerang hijau dan beberapa udang cengkrek yang akhirnya kami bungkus untuk dibawa pulang. Istirahat sejenak sambil menikmati kelapa muda yang menjadi menu pencuci mulut kami.setelah itu kami pun berencana untuk pulang, tapi sebelum itu ada satu tempat yang cukup menarik di sekitar tempat makan terdapat satu rumah makan juga yang terletak sedikit ke arah laut sehingga untuk menuju ke rumah makan tersebut harus melalui jembatan yang tersedia. Pemandangan indah membuat kamipun kembali berfoto – foto ria untuk kami jadikan kenang – kenangan. Setelah puas menikmati indahnya pemandangan di pesisir laut, kamipun pulang menuju rumah masing – masing.




Perjalanan menyenangkan yang dihiasi dengan pemandangan pesisir laut dan segala perangkat yang berhubungan dengan laut menjadi tema utama perjalanan kami kali ini.

So, semoga perjalanan kami kali ini dapat menginspirasi para pembaca untuk jalan – jalan ke tempat yang kami kunjungi kali ini.

Seperti yang saya katakan di perjalanan yang lalu..
“Tak peduli kemana kita pergi yang terpenting adalah dengan siapa kita pergi dan melakukan perjalanan”

See ya in the next journey ^^
baca selengkapnya>>>

Rabu, 30 November 2011

Wisata Jalan - Jalan

Well akhirnya hari yang kutunggu – tunggu datang juga.
Dengan persiapan yang seadanya akhirnya aku berangkat dari rumah dengan terburu – buru karena bangun tidur di luar target yang diharapkan (ya istilah anak gaulnya kesiangan,hehe). Untung saja temanku pun sedang bersibuk – sibuk ria dengan persiapannya untuk berangkat, sehingga rasa bersalahku karena telat datang menjemputnya sedikit berkurang (#ngeles hehe). Aku dan temanku berencana untuk bertemu dengan teman kami lainnya di terminal Kp. Melayu. Ketika semua anggota sudah lengkap, kami segera mengarahkan langkah kami menuju tempat tujuan kami selanjutnya yaitu Stasiun Tebet.

Kami beruntung ketika sampai di stasiun, kereta yang kami tumpangi datang tidak lama setelah kami membeli karcis (dengan Rp. 7000, termasuk biaya yang cukup murah mengingat jarak yang cukup jauh dari jakarta menuju bogor), dan “We go to Bogor”…

Setibanya kami di Stasiun Bogor, tempat pertama yang ingin kami datangi adalah tempat makan, Ya, mengingat beberapa dari kami ada yang bahkan belum sarapan, tempat ini merupakan tempat yang sangat tepat untuk mengisi tenaga kami, mengingat perjalanan yang kami tempuh sangatlah panjang. Kebetulan di depan stasiun berjejer penjual makanan, sehingga dengan mudah kami dapat memilih makanan yang akan kami jadikan sarapan.

Setelah perut dan tenaga kembali terisi, kami pun langsung mencari angkutan yang akan membawa kami tujuan pertama yaitu “Parahyangan Agung Jagatkartta”. Ya karena angkutan kota alias angkot yang ada di luar stasiun tidak ada yang menuju tempat tujuan kami, kami harus transit di BTM [Bogor Trade Mall] (bukan ATM yah, hehe ^^), lalu meneruskan perjalanan lagi dengan angkot yang menuju ke tempat tujuan kami.

Well, kami merasa beruntung lagi ketika hampir sampai tempat tujuan sang supir menawarkan untuk mengantarkan kami sampai ke tempat tujuan. Ternyata dari jalan utama yang biasa di lalui para angkot, tak ada satupun angkot yang melewati Parahyangan Agung Jagatkartta (dari pertigaan jalan utama yang dilalui angkot, jika ingin ke parahyangan kita harus belok ke jalan yang dapat mengantar kita langsung ke depan parahyangan tersebut). Inilah papan penunjuk jalan Parahyangan Agung Jagatkartta.

Mendapat tawaran menarik dari sang supir kami pun menyetujui ide brilian tersebut, dan diantarlah kami sampai di depan Parahyangan Agung Jagatkartta. Ya selain dapat mengirit tenaga kami (tapi tidak mengirit ongkos), perjalanan dapat ditempuh lebih cepat dibandingkan dengan jalan kaki.

Dengan sedikit ragu kami pun memberanikan diri untuk masuk menuju area Parahyangan tersebut, dan berbincang sejenak dengan orang – orang yang ada di parahyangan tersebut sembari meminta izin untuk masuk ke area yang lebih dalam lagi. Dengan memakai kain pengikat pinggang dan selendang (sebenarnya sih mirip sarung,hehe) kami memasuki area parahyangan dengan beberapa peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pemandangan yang begitu “Amazing” langsung kami dapati ketika memasuki area Mandala Utama, sebuah tempat luas yang terdapat patung Shri Ganesha dan beberapa tempat lainnya. Karena kami tidak diperbolehkan masuk ke area meditasi ( peraturan parahyangan menyatakan bahwa yang boleh masuk ke area meditasi, hanya orang – orang yang berniat untuk bermeditasi saja, selain itu tidak diperbolehkan), kami memanfaatkan pemandangan indah sebagai objek background foto – foto kami. Beberapa saat kami berfoto – foto kami sempat di hampiri oleh seorang penjaga parahyangan yang memberikan sambutan selamat datang dan beberapa nasihat atau dalam bahasa prancisnya wejangan ^^. Setelah berfoto bersama dengan kami sang penjaga pun kembali ke aktivitas sebelumnya (dan kami pun bisa berfoto ria kembali,hahay).


Menjelang pulang kami pun tidak lupa untuk pamit kepada beberapa penjaga parahyangan yang ada, dan kami pun melanjutkan perjalanan kami selanjutnya. Setelah keluar parahyangan satu – satunya alat transportasi yang dapat kami gunakan yaitu kaki kami sendiri. Ya mengingat tidak ada angkot yang lewat, dengan sangat senang (bener gak ya pada senang??xixixi) kami pun berjalan kaki sampai ke jalan utama yang dilalui angkot. Di sepanjang jalan yang cukup sepi itu, perjalanan kami dihiasi dengan pemandangan – pemandangan yang indah dari lereng gunung salak (jangan tanya kenapa disebut gunung salak karena aku pun tak tahu alasannya, mungkin dulu ada yang tanam pohon salak atau yang menemukan itu sambil makan salak, ya pokoke begitulah).

Sesampainya di jalan utama, kami pun bersiap untuk menuju tempat selanjutnya, Permandian Air Panas Ciparay..
Dengan gambling kami mencoba untuk bertanya tempat tersebut berada(maklum bermodalkan peta dari google dengan skala yang besar, sulit menemukan tempat tersebut, sayangnya temanku itu tidak membawa peta dora agar kami dengan mudahnya bertanya pada “peta”,hehehe ^^), ada orang yang mencoba berbaik hati menawarkan kami untuk mencharter atau bahasa kerennya “menyewa” angkot.

Well dengan tawar menawar kami pun mendapat harga yang cocok lalu pergilah kami ke tempat tujuan kami tersebut.

Sesampainya di tempat tujuan, keyakinan kami akan tempat tersebut memudar..
Jalan setapak yang sempit nan becek pun menyambut kedatangan kami. Dengan galau pun kami berjalan menuju tempat permandian air panas tersebut. Dan Sesampainya di tempat tujuan…
JJJrrrreeeeennnnnggggg kekecewaan melanda karena itu bukanlah tempat yang kami maksudkan, melihat tempat permandian tersebut yang lebih mirip kolam ikan yang berisi para pria bermuka mesum, kami pun langsung menyatakan “balik kanan” dan menuju tempat tujuan kami yang lainnya.

Dengan Semangat bercampur sedikit kecewa kami berangkat ke “Curug Nangka” (Yipppeee).
Dengan angkot kami pun kembali ke Curug Nangka yang sempat kami lewati tadi. Tantangan selanjutnya pun menunggu, Jalan menuju Curug Nangka.
Dengan merogoh kantong sebesar Rp. 7500 kami sudah dapat masuk ke area curug nangka tanpa ada biaya tambahan lagi (kalo jajanan atau makanan dan minuman pastinya bayar lagi yah,^^)cukup murah untuk para penggemar jalan - jalan, selain murah, pemandangan indah pun bisa dinikmati ^^




 Well sambil menikmati bekal yang kami bawa, kami berjalan menikmati indahnya alam yang bisa dibilang sulit kami dapatkan mengingat kami adalah warga kota yang selalu dihiasi dengan gedung bertingkat dan jalan – jalan tol.(ok kembali ke jalan – jalannya) Disambut dengan hutan pinus yang indah, kekecewaan kami terasa terobati dengan indahnya tempat tersebut, udara segar, rindang, dan membuat betah berlama – lama di sana.
Perjalanan panjang dengan berjalan kaki benar – benar cukup melelahkan, tapi terbayarkan dengan air terjun yang menyambut kami dengan airnya yang dingin dan segar, percikan air terjun yang langsung mengenai tubuh serasa di pijat oleh ahli dan membuat tubuh merasa nyaman, sehingga membuat ingin rasanya berendam lama – lama di sana. Hal yang tidak kami duga pun terjadi, hujan turun dengan deras, sehingga membuat kami berteduh sambil menikmati menu makan siang kami yaitu mie rebus, yang cukup membuat tubuh kami kembali merasa hangat.

Redanya hujan membuat kami antusias untuk kembali berendam, tapi suhu dingin membuat kami memilih untuk langsung berbenah dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami. Setelah berfoto untuk mengabadikan kunjungan kami, kami pun segera menuju ruang bilas  untuk mandi lalu bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami selanjutnya.

Dengan ojek kami berangkat ke jalan utama dimana angkot – angkot berjejer menunggu para penumpangnya, kami memilih ojek karena selain mempersingkat waktu kami berusaha menyimpan tenaga kami untuk perjalanan selanjutnya. Setelah di dalam angkot, kami pun sepakat untuk ke SKI (Sumber Karya Indah)…

Aku benar – benar blank dengan tempat tersebut, katanya sih itu tempat foodcourt, factory outlet sekaligus tempat bermain dan wisata keluarga yang bertempat di daerah Tajur Katulampa. Dengan sedikit membayangkan tempat tersebut, kami pun sampai ke tempat tujuan. Kami masih harus memasuki area tempat wisata tersebut dengan berjalan kaki sekitar 500 m jaraknya. Di sambut dengan beberapa kolam ikan berisi ikan koi, sebuah kandang rusa, dan kandang angsa semakin memperindah suasana alami di sana.

Setibanya kami di dalam tempatnya ternyata sangat ramai, sebuah tempat wisata yang dihiasi oleh berbagai hewan – hewan mulai dari ikan koi di berbagai kolam, di tambah dengan kura – kura dan seekor hewan purba bernama Paraima apa gitu(hehe maaf sedikit lupa). Sulit bagi kami melihat hewan tersebut karena hewan tersebut selalu menyelam dan jarang menampilkan dirinya di permukaan. Perjalanan kami pun berlanjut ke factory outlet yang ada, dan melihat – lihat beberapa barang yang di jual di sana. Setelah waktu mulai sore kami pun melangkahkan kaki kami menuju pasar yang berada di dekat kebun raya bogor. Ketika menuju jalan utama tak disangka hujan kembali turun, sehingga kami pun harus mempercepat langkah kami untuk mendapatkan angkot, walaupun kami cukup terlindungi oleh payung yang kami bawa.

Well, angkot yang kami tumpangi langsung bergerak menuju terminal bogor, dari terminal bogor menuju pasar kami tempuh dengan berjalan kaki. Perjalanan yang cukup jauh membuat kami sedikit kelelahan. Pasar yang sudah terlihat membuat kami cukup bersemangat untuk mempercepat  langkah kami agar segera sampai sehingga bisa melepas lelah dan berbelanja beberapa oleh – oleh untuk kami bawa pulang..

Setelah puas berbelanja dan kami mendapatkan barang yang kami jadikan oleh – oleh, langkah kamipun menuju kembali ke BTM dengan berjalan kaki lalu melanjutkannya dengan naik angkot menuju stasiun Bogor. Setibanya di stasiun Bogor kami langsung membeli karcis untuk pulang menuju Stasiun Tebet.

Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan, dan itulah hal yang harus kami lakukan untuk pulang. Menunggu kereta yang datang menjemput kami benar – benar menjadi hal yang tidak terlalu membosankan karena adanya obrolan – obrolan yang membuat kami sedikit lupa akan waktu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.30, membuat kami bersiap – siap untuk menyambut kereta yang datang di jalur nomor 2 (kata petugasnya sih kereta kami di jalur 2), aku pun sedikit kesal sehingga aku kembali bertanya ke petugas terdekat, yang akhirnya mengatakan bahwa kami ada di Jalur nomor 5!! Dengan sedikit kesal aku pun langsung memberitahu teman – teman untuk segera menuju jalur 5 dan naik kereta yang sudah menunggu sedari tadi.
Ketika di dalam kereta kami kembali dibuat kesal karena kami kembali harus menunggu kereta untuk berjalan, sehingga membuat teman – temanku terpaksa duduk di bawah karena tidak mendapatkan tempat duduk. Setelah sekitar 30 menit akhirnya kereta berjalan, dengan sedikit gambling dan menebak stasiun tempat kami turun.

Dengan yakin kamipun turun di stasiun dengan cat utama biru dan ternyata kami turun di stasiun yang tepat yaitu stasiun Tebet. Dan kami pun mulai berpisah satu sama lain untuk pulang ke rumah kami masing – masing. Dalam perjalanan pulang aku masih harus ke rumah temanku untuk mengambil motor yang aku titipkan di rumahnya, dengan perut yang lapar kami mampir sebentar di depan komplek rumah temanku untuk membeli makanan yang akan kami jadikan menu makan malam. Well sate pun kami pilih untuk menjadi menu makan malam kami, lalu kami bawa ke tempat temanku untuk di makan di rumahnya..

Setelah selesai makan, aku pun bersiap pulang dan mengakhiri hari panjang yang menyenangkan ini. Dan aku pun teringat dengan ucapan salah satu temanku “Tak peduli kemana kita pergi yang penting adalah dengan siapa kita pergi” ^^
baca selengkapnya>>>
HackingUniversity - Hacks • Pranks • Tricks • How-Tos.Get Falling Snow Effect